Rapat digital marketing

Lima kesalahan digital marketing B2B yang dapat membuat sales tetap stagnan adalah:

  1. Berfokus pada kenaikan traffic, bukan mendatangkan buyer yang relevan.
  2. Tidak memiliki sistem untuk mengualifikasi leads.
  3. Mengandalkan satu channel tanpa membangun funnel.
  4. Langsung menawarkan produk tanpa membangun kepercayaan.
  5. Menjalankan setiap channel secara terpisah tanpa alur yang terintegrasi.

Kesalahan tersebut membuat aktivitas marketing terlihat ramai, tetapi kontribusinya terhadap peluang penjualan sulit dibuktikan. Traffic dapat meningkat tanpa menghasilkan leads berkualitas, sedangkan sales harus menindaklanjuti inquiry yang belum sesuai atau belum siap berdiskusi.

Untuk menemukan penyebab marketing B2B tidak efektif, perusahaan perlu memeriksa hubungan antara audiens, leads, funnel, bukti kepercayaan, channel, dan data penjualan.

Berfokus pada Traffic, Bukan Buyer yang Siap Membeli

Kenaikan traffic tidak otomatis meningkatkan penjualan jika pengunjung berasal dari audiens, lokasi, kebutuhan, atau search intent yang tidak sesuai. Sebelum menambah traffic, bisnis perlu membedakan traffic, leads, dan closing agar dapat mengetahui apakah hambatan sebenarnya berada pada visibilitas, kemampuan menghasilkan inquiry, atau proses mengubah prospek menjadi pelanggan.

Bedakan Traffic Tinggi dan Traffic Berkualitas

Traffic berkualitas tidak hanya dinilai dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari relevansi pengunjung dan tindakan yang mereka lakukan setelah masuk ke website.

IndikatorTraffic TinggiTraffic Berkualitas
Sumber kunjunganMendatangkan banyak pengguna tanpa profil yang jelasBerasal dari channel yang menjangkau target perusahaan
IntentMencari informasi yang tidak berkaitan langsung dengan solusiMemiliki masalah atau kebutuhan yang dapat dilayani
Halaman tujuanMasuk ke halaman umum yang kurang sesuaiMasuk ke halaman layanan, studi kasus, atau landing page relevan
EngagementKunjungan singkat tanpa eksplorasi lanjutanMembaca informasi penting atau mengunjungi beberapa halaman terkait
Tindakan lanjutanTidak melakukan tindakan yang menunjukkan minatMengisi formulir, meminta konsultasi, atau menghubungi perusahaan

Tidak Memiliki Sistem Kualifikasi Leads

Memperlakukan semua inquiry sebagai peluang yang sama dapat menghabiskan waktu sales. Sebagian kontak mungkin belum membutuhkan solusi, tidak sesuai dengan target perusahaan, atau belum memiliki kesiapan untuk mengambil keputusan.

Tetapkan Kriteria Leads yang Layak Ditindaklanjuti

Kriteria kualifikasi perlu disesuaikan dengan model bisnis, nilai transaksi, dan proses penjualan masing-masing perusahaan. Tidak ada batas yang berlaku secara universal untuk seluruh bisnis B2B.

KriteriaInformasi yang DiperiksaTindakan Berikutnya
Profil perusahaanIndustri, skala, dan jenis bisnisPeriksa kesesuaiannya dengan target pasar
KebutuhanMasalah dan hasil yang ingin dicapaiIdentifikasi solusi yang relevan
KontakJabatan dan kewenangan dalam keputusanTentukan pihak yang perlu dilibatkan
LokasiWilayah operasional atau implementasiPeriksa jangkauan layanan
UrgensiTarget waktu penerapanTentukan prioritas follow-up
Kapasitas anggaranKesiapan mengalokasikan biayaSesuaikan ruang lingkup pembicaraan
Kesiapan berdiskusiKesediaan memberikan informasi lanjutanTeruskan ke sales atau lakukan nurturing

Pisahkan Leads Berdasarkan Tindakan Berikutnya

Setelah diperiksa, leads dapat dibagi menjadi tiga kelompok praktis:

Pembagian tersebut membantu sales memusatkan waktu pada peluang yang lebih layak tanpa mengabaikan calon pelanggan yang masih membutuhkan edukasi.

Sistem kualifikasi leads

Mengandalkan Satu Channel tanpa Strategi Funnel

Mengandalkan SEO saja, Ads saja, atau media sosial saja dapat membatasi perjalanan buyer. Menurut Gartner, perjalanan pembelian B2B tidak selalu berjalan secara linear karena buyer dapat kembali ke tahap sebelumnya sebelum merasa cukup yakin untuk mengambil keputusan. Karena itu, informasi dari berbagai channel marketing dan tim sales perlu saling melengkapi sepanjang funnel.

Tempatkan Channel Sesuai Perannya dalam Perjalanan Buyer

Setiap channel dapat memegang peran yang berbeda dalam funnel marketing B2B. Pembagiannya perlu mengikuti kebutuhan informasi calon pelanggan pada setiap tahap.

Tahap BuyerKebutuhan InformasiPeran ChannelJenis KontenTindakan yang Diharapkan
Mengenali masalahGejala dan dampak masalahMedia sosial atau Meta AdsKonten edukasi dan insightMempelajari masalah
Mencari solusiPilihan dan cara penyelesaianSEO atau Google AdsPanduan, halaman layanan, dan perbandinganMengevaluasi solusi
Mempertimbangkan penyediaBukti kemampuan dan kecocokanWebsite dan remarketingStudi kasus, proses kerja, dan FAQBerkonsultasi atau meminta penawaran

Tidak semua bisnis wajib menggunakan seluruh channel tersebut. Kombinasi channel tetap perlu dipilih berdasarkan perilaku audiens, panjang proses pembelian, kemampuan internal, dan tujuan bisnis.

Langsung Berjualan tanpa Membangun Kepercayaan

Penawaran yang terlalu cepat mendorong closing dapat diabaikan ketika buyer masih mempertimbangkan risiko, biaya, kecocokan, dan kemampuan penyedia. Menurut LinkedIn Management Consulting Buyer Survey 2024, sebanyak 86% responden menilai kepercayaan sama pentingnya atau lebih penting daripada inovasi. Meskipun riset tersebut secara khusus membahas pembelian jasa konsultasi, hasilnya menunjukkan pentingnya membangun kredibilitas sebelum meminta buyer mengambil keputusan besar.

Sediakan Bukti Sesuai Keraguan Buyer

Bukti yang disediakan harus menjawab keraguan calon pelanggan, bukan sekadar memenuhi halaman website. Bentuknya dapat meliputi:

Hanya tampilkan bukti yang dapat diverifikasi. Klaim tanpa konteks justru dapat mengurangi kepercayaan pelanggan B2B.

Sesuaikan CTA dengan Kesiapan Calon Pelanggan

Tidak semua pengunjung siap meminta penawaran. CTA sebaiknya mengikuti tingkat kesiapan dan pertanyaan yang masih dimiliki calon pelanggan.

Tahap PertimbanganKeraguan BuyerBukti yang DibutuhkanCTA yang Sesuai
AwalBelum memahami solusiPanduan atau penjelasan layananPelajari solusi
MenengahBelum yakin terhadap kemampuan penyediaStudi kasus dan proses kerjaLihat studi kasus atau minta audit
LanjutPerlu memastikan kecocokan dan biayaRekomendasi serta ruang lingkup awalKonsultasi atau minta penawaran

Menjalankan Setiap Channel Secara Terpisah

Website, iklan, dan media sosial belum membentuk strategi omnichannel B2B apabila menggunakan pesan, audiens, landing page, data, dan tindak lanjut yang tidak saling terhubung.

Akibatnya, calon pelanggan bisa melihat iklan tentang satu masalah, masuk ke halaman yang membahas hal lain, lalu menerima penawaran sales yang tidak sesuai dengan alasan awal mereka menghubungi perusahaan.

Selaraskan Pesan dan Penawaran Antar-Channel

Masalah yang diangkat dalam iklan atau konten harus dilanjutkan pada landing page. Bukti yang ditampilkan juga perlu mendukung penawaran yang kemudian disampaikan sales.

Periksa konsistensi pada beberapa bagian berikut:

Konsistensi tersebut tidak berarti semua channel harus menggunakan materi yang sama. Pesannya dapat disesuaikan dengan format channel, tetapi masalah, target audiens, dan penawaran utamanya tetap perlu berada dalam satu arah.

Hubungkan Data dari Kunjungan hingga Penjualan

Gunakan parameter campaign, conversion tracking, pencatatan sumber leads, status kualifikasi, dan hasil follow-up. Menurut Google Analytics, parameter UTM yang ditambahkan pada URL tujuan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kampanye yang mengarahkan traffic. Penamaan parameter yang konsisten juga diperlukan agar data dari satu kampanye tidak terpecah ke dalam beberapa kategori.

Perusahaan juga perlu memeriksa akurasi conversion tracking sebelum menghubungkan data marketing dengan catatan sales. Langkah ini membantu bisnis menilai bukan hanya channel yang menghasilkan formulir, tetapi juga channel yang mendatangkan qualified leads, peluang penjualan, dan pelanggan.

Evaluasi data

Tentukan Kesalahan yang Perlu Diperbaiki Lebih Dahulu

Prioritas perbaikan sebaiknya ditentukan dari gejala dan data, bukan langsung dengan menambah budget atau channel.

GejalaKesalahan yang Mungkin TerjadiData yang DiperiksaTindakan Awal
Traffic tinggi, inquiry rendahTraffic tidak relevanSearch term, audiens, landing page, dan conversion ratePerbaiki target dan intent
Sales menerima banyak leads mentahTidak ada sistem kualifikasiProfil, kebutuhan, dan status leadsTetapkan kriteria serta alur leads
Buyer berhenti di tengah perjalananFunnel belum lengkapPerpindahan antartahap dan touchpointIsi bagian funnel yang terputus
Penawaran jarang ditanggapiKepercayaan belum terbentukCTA, bukti, dan keraguan buyerTambahkan bukti yang relevan
Kontribusi channel tidak diketahuiData tidak terintegrasiUTM, tracking, sumber leads, dan hasil salesHubungkan data marketing dan sales

Jika terdapat lebih dari satu gejala, mulai dari masalah yang paling dekat dengan hambatan penjualan. Sebagai contoh, menambah traffic belum menjadi prioritas apabila sales masih menerima banyak inquiry yang tidak sesuai.

FAQ

Berikut jawaban singkat atas pertanyaan yang sering muncul saat mengevaluasi kesalahan digital marketing B2B.

1. Apakah traffic tinggi tidak penting untuk marketing B2B?

Traffic tinggi tetap penting, tetapi kunjungan tersebut perlu berasal dari audiens dan kebutuhan yang relevan agar berpeluang berkembang menjadi leads. Jumlah pengunjung sebaiknya dibaca bersama kualitas sumber, intent, tindakan, dan hasil kualifikasinya.

2. Apakah semua leads harus langsung diberikan kepada sales?

Tidak. Leads perlu dikualifikasi, kemudian diteruskan kepada sales, dimasukkan ke proses nurturing, atau tidak diprioritaskan sesuai kondisinya. Pemisahan ini membantu sales menggunakan waktu secara lebih terarah.

3. Apakah bisnis B2B wajib menggunakan banyak channel?

Tidak. Bisnis memerlukan kombinasi channel yang sesuai dengan perilaku buyer dan memiliki peran jelas dalam funnel. Satu atau dua channel yang terarah dapat lebih berguna daripada banyak channel tanpa fungsi dan pengukuran yang jelas.

4. Apa perbedaan menggunakan satu channel dan menjalankan channel secara terpisah?

Menggunakan satu channel berarti perjalanan buyer bergantung pada satu sumber. Menjalankan channel secara terpisah berarti beberapa channel sudah digunakan, tetapi pesan, data, landing page, dan tindak lanjutnya tidak saling terhubung.

Kesimpulan

Jangan langsung menambah traffic atau channel ketika penjualan B2B stagnan. Periksa terlebih dahulu kualitas pengunjung, sistem kualifikasi leads, kelengkapan funnel, bukti kepercayaan, serta integrasi pesan dan data. Prioritaskan bagian yang paling menghambat qualified leads bergerak menuju peluang penjualan.

Selaraskan Channel untuk Menghasilkan Leads yang Lebih Berkualitas

MANTAP ID dapat membantu menyelaraskan SEO, Google Ads, dan Meta Ads dalam strategi funnel yang berfokus pada kualitas leads serta kontribusinya terhadap penjualan. Konsultasikan kondisi digital marketing bisnis Anda untuk menentukan channel, tracking, dan bagian funnel yang perlu diperbaiki lebih dahulu.

Ciputra World, 10th Floor Suite 10-01 Vieloft, Kompleks Superblock
Jl. Mayjen Sungkono No.89, Gunung Sari, Dukuhpakis, Surabaya, East Java 60224

WhatsApp: +62 811-3057-6777
Email: hello@smart-it.co.id
Instagram: @mantapidofficial
Tiktok: mantapidofficial 

Referensi

  1. Gartner. (2024). Improve digital engagement to support B2B buying journeys. Gartner.
    https://www.gartner.com/en/documents/5083031
  2. Google. (n.d.). Pembuat URL: Mengumpulkan data kampanye dengan URL kustom. Bantuan Analytics.
    https://support.google.com/analytics/answer/10917952?hl=id
  3. LinkedIn. (2024). LinkedIn Management Consulting Buyer Survey 2024: Stand out from the crowd. LinkedIn Marketing Solutions.
    https://business.linkedin.com/advertise/resources/stand-out-from-the-crowd